Selasa, 20 Agustus 2013 - 23:01:24 WIB
Bulan Kitab Suci Nasional 2013
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: Artikel - Dibaca: 2202 kali

KELUARGA BERSEKUTU DALAM SABDA (I)

“Oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya” (2 Sam 7:29)

GAGASAN PENDUKUNG

Oleh : Paskalis Edwin Nyoman Paska (Lembaga Biblika Indonesia)

PRAKATA

Paus Benediktus XVI melalui Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu kepada Iman) mengabdikan tahun 2013 sebagai Tahun Iman. Sang Gembala Gereja Semesta mengajak segenap umat Kristen untuk merefleksikan imannya dan sekaligus mengambil langkah kreatif untuk membangun iman dalam ziarah sepanjang tahun 2013.

Dalam rangka membangun iman yang solid, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Katolik Indonesia mendalami dokumen-dokumen Konsili Vatikan II sebagai dasar pijak yang kokoh untuk terus bertumbuh dalam iman akan Kristus, Sang Penyelamat. Para Bapa Uskup serentak pula mengajak umat untuk menghayati iman dalam respek dan tanggung jawab kepada alam sekitar.

Menanggapi seruan itu, Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dalam kiprah gerakan Kerasulan Kitab Suci di Indonesia menjadikan keluarga sebagai locus yang ideal bagi pewartaan iman perdana. Melalui Pertemuan Nasional Kitab Suci yang dilaksanakan di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur, 1-5 Agustus 2012, segenap delegatus Kitab Suci sekeuskupan di Indonesia sepakat mengusung tema "Kitab Suci dalam Keluarga" sebagai fokus kerasulan Kitab Suci selama empat tahun (2013-2016). Melalui tema ini diharapkan setiap keluarga bisa bertumbuh dalam iman berkat permenungan dan penghayatan akan Sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci.

Tahun 2013 merupakan tahun perdana ziarah keluarga Katolik Indonesia dalam tema "Kitab Suci dalam Keluarga". Selain Buku Ibadat Keluarga yang sudah beredar sejak bulan Januari 2013, LBI juga menyiapkan bahan pertemuan dalam kelompok selama bulan September 2013. Dalam sub tema: "Keluarga Bersekutu dalam Sabda", segenap umat Katolik, baik anak-anak, para remaja, orang muda, maupun para orang tua, diajak untuk mengadakan sharing iman di tingkat kelompok guna membangun iman yang solid, matang, dan kreatif. Melalui perjumpaan dengan tokoh-tokoh biblis, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, setiap peserta diharapkan merefleksikan imannya dan menemukan cara yang memadai untuk menumbuhkan imannya dalam dunia yang sekuler, yang penuh dengan tantangan dan kesulitan.

Kami menghimbau segenap umat Katolik Indonesia untuk memiliki dan memberikan apresiasi atas buku panduan ini sebagai salah satu wujud nyata untuk memberi makna kepada Tahun Iman. Dan lebih dari itu. kami mengajak segenap umat Katolik, di manapun berada, untuk menghadiri pertemuan kelompok sebagai momen saling berbagi iman dalam aneka pengalaman kecemasan dan kedukaan, juga dalam aneka pengalaman kegembiraan dan kebahagiaan. Saling berbagi dalam aneka pengalaman hidup adalah sebuah praksis iman yang paling konkret dan nyata sebagaimana dihayati jemaat perdana.

Akhirnya saya mengucapkan limpah terima kasih untuk Bapak Dr. Paskalis Edwin Nyoman Paska yang telah menyiapkan gagasan dasar untuk buku panduan ini. Tak lupa, respek dan ucapan terima kasih yang mendalam buat para Delegatus Kitab Suci yang telah menyusun bahan pertemuan kelompok, serta semua rekan kerja di LBI yang telah bekerja keras untuk membuat buku panduan ini siap dan pantas digunakan dalam reksa pastoral dalam lingkungan Gereja Katolik Indonesia. Selamat menggunakan buku ini dan semoga ziarah iman kita sungguh berbuah limpah.

P. Yosef Masan Toron, SVD

Ketua Lembaga Biblika Indonesia

 

1.     KELUARGA YANG BERIMAN : KELUARGA ABRAHAM DAN SARA (Kej 12:1-6)

Abraham sering disebut bapa kaum beriman (Rm. 4:16) tentu karena ia telah menunjukkan dirinya sebagai orang beriman (Gal. 3:9). Iman ini pertama-tama ditunjukkan oleh Abraham dengan kesiapsediaannya melaksanakan perintah Tuhan untuk meninggalkan negeri kelahiran dan sanak saudaranya (Kej. 12:1-6). Apa yang bisa kita pelajari perihal iman dari kisah panggilan Abraham ini?

Susunan Teks

Perikop Kej. 12:1-6 merupakan bagian dari kisah panggilan Abraham (Kej. 12:1-9). Perikop ini berisi pengulangan-pengulangan yang memberi informasi tambahan atau agak berbeda. Misalnya, dalam ayat 4a dikatakan Abraham pergi bersama Lot seperti yang difirmankan TUHAN, lalu ayat 5 diulang lagi dengan mengatakan bahwa Abraham pergi juga bersama Sarai, istrinya. Bahkan ada pengulangan yang sepertinya bertentangan. Misalnya, ayat 1 mengatakan Abraham diminta pergi oleh TUHAN ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya, namun dalam ayat 5 Abraham sepertinya sudah tahu ke mana ia harus pergi, yakni Kanaan. Adanya pengulangan-pengulangan seperti itu mendorong banyak penafsir untuk melihat Kej. 12:1-9 sebagai teks yang berasal dari dua sumber yang berbeda: tradisi Yahwis (ayat l-4a,6-9) dan tradisi Imamat (ayat 4b-5). Namun, pembagian itu tidak perlu terlalu membuat kita memisahkan perikop ini dalam dua tradisi, melainkan tetap melihatnya sebagai satu kesatuan yang utuh sebagaimana adanya.

Kej. 12:1-9 tersusun dari tiga bagian, yakni perintah untuk meninggalkan negeri (ayat 1), janji berkat (ayat 2-3), dan berita perjalanan Abraham (ayat 4-9).

Perintah untuk Meninggalkan Negeri (Kej. 12:1)

Tuhan memerintahkan Abraham untuk meninggalkan "negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya" (Kej. 12:1). Negeri mana yang harus Abraham tinggalkan?

Berdasarkan konteksnya, negeri yang dimaksud di sini tentu Haran, karena di sinilah Abraham menerima panggilan Tuhan. Haran adalah kota di Mesopotamia Utara yang menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting dalam rute perjalanan antara Niniwe dan Damaskus. Namun, bila kita melihat konteksnya yang lebih luas, negeri ini bisa mengacu ke Ur Kasdim, Mesopotamia Selatan. Sebelum kisah panggilan ini, dikatakan bahwa Terah, ayah Abraham, berasal dari Ur Kasdim (Kej. 11:28). Atas kemauannya sendiri, Terah berangkat meninggalkan negerinya bersama Abraham, anaknya, dan Sarai, istri Abraham, serta Lot, cucunya, menuju Kanaan (Kej. 11:31).

Keluarga besar Abraham tampaknya suku semi-nomaden yang hidup di negara-kota Mari, dekat Sungai Efrat, antara abad ke-20 SM hingga abad ke-14 SM. Mereka mempunyai banyak ternak. Untuk memperoleh padang penggembalaan yang subur dan untuk kelangsungan hidup mereka, sering kali mereka berpindah-pindah sebagai imigran ke daerah Bulan Sabit yang subur. Mungkin karena alasan itu pulalah Terah pergi menuju Kanaan. Namun, sebelum mencapai Kanaan, mereka sepertinya mengubah rencana dan tujuan perjalanan mereka. Mereka berhenti dan menetap di Haran (Kej. 11:31). Berdasarkan latar belakang ini, negeri yang harus Abraham tinggalkan tampaknya Ur Kasdim (Kasdim = Babel), negeri asal-usulnya.

Jadi, negeri yang harus Abraham tinggalkan ialah baik Ur Kasdim maupun Haran. Mengingat tujuan awal perjalanan Terah meninggalkan Ur Kasdim ialah Kanaan (Kej. 11:31), apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada Abraham dalam arti tertentu adalah melanjutkan dan menggenapi perjalanan yang sudah dimulai oleh ayahnya.

Siapa sanak saudaranya yang harus ditinggalkan oleh Abraham? Kata sanak saudara (Ibrani: moledet) mengacu pada kaum kerabat, mereka yang bersaudara karena hubungan darah atau perkawinan. Beberapa sanak saudara Abraham yang disebut dengan namanya dalam Alkitab adalah Terah (ayahnya), Nahor dan Haran (saudara kandungnya), dan Milka (istri Nahor).

Ungkapan "rumah bapamu" (Ibrani: bet ‘abika) tidak dipakai dalam arti harfiah "rumah milik bapamu" atau "rumah di mana bapamu tinggal", melainkan "orang-orang yang masih ada hubungan saudara dengan engkau", "keluarga besarmu", atau "klanmu". Mungkin lebih kasarnya bisa disebut "orang sekampungmu". Speiser yang menganggap kata "negeri" dan "sanak saudara" merupakan hendiyadys (dua kata untuk mengungkapkan satu ide), dan harus dimengerti sebagai ungkapan "tanah kelahiran", mengartikan ungkapan "rumah bapamu" dengan "semua mereka yang tinggal dengan ayahmu".

Singkatnya, Abraham diminta pergi meninggalkan akar hidupnya, dasar yang menopang hidupnya, yang memberi dia rasa aman, yakni tanahnya, masyarakatnya, dan keluarga dekatnya.

Janji Berkat (Kej. 12:2-3)

Alasan Tuhan memanggil Abraham ialah karena Ia mempunyai rencana besar yang hendak Ia wujudkan melalui Abraham. Rencana besar itu ialah: "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej. 12:2-3). Rencana besar ini berupa janji berkat bagi Abraham dan semua orang yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang.

Berkat bagi Abraham

"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat" (ayat 2).

Pertama, Abraham akan dibuat menjadi bangsa (goy) yang besar (ayat 2a). Bahasa Ibrani mengenal dua istilah untuk kata "bangsa", yakni 'am dan goy. Kata 'am mengacu pada bangsa dalam arti kelompok manusia yang anggotanya disatukan oleh hubungan darah. Semuanya berasal dari orangtua atau nenek moyang yang sama. Sedangkan goy mengacu ke bangsa (Inggris:nation) yang mengandung konotasi politis (mempunyai bentuk pemerintahan yang merdeka), administratif, geografis (mempunyai wilayah), dan identitas kultur yang membedakan komunitas tertentu dengan kelompok yang lain. Yang dijanjikan kepada Abraham ialah menjadi goy yang besar, menjadi suatu kekuatan politis yang besar, yang mengandaikan jumlah penduduk yang banyak, wilayah geografis yang luas, dan merdeka (tidak ada di bawah kekuatan bangsa lain).

Kedua, "membuat namamu masyhur". Janji ini bertentangan dengan apa yang terjadi pada peristiwa Menara Babel (Kej. 11:1-9). Manusia ingin mencari nama ("marilah kita cari nama", Kej. 11:4) dengan mendirikan Menara Babel, namun mereka tidak mendapatkannya. Abraham tidak mencari nama, namun ia akan mendapat dari Allah sendiri "nama" yang mashyur, yang begitu didambakan oleh umat manusia. Kemasyhuran juga mengandung nuansa politis, sebab dulu kemasyhuran sering dicapai dengan mengalahkan bangsa-bangsa lain (bdk. 2Sam. 8:13). Sekarang pun orang sering meraih kemashyuran dengan terlibat dalam politik praktis.

Ketiga, "dan engkau akan menjadi berkat”. Dalam Perjanjian Lama, ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa seseorang atau suatu bangsa dapat menjadi berkat bagi bangsa lain. Misalnya, Za. 8:13, "Dan kalau dahulu kamu telah menjadi kutuk di antara bangsa-bangsa, hai kaum Yehuda dan kaum Israel, maka sekarang Aku akan menyelamatkan kamu, sehingga kamu menjadi berkat. Janganlah takut, kuatkanlah hatimu!" (lih. juga Yes. 19:24). Namun, tidak begitu gampang memahami apa sebenarnya arti "menjadi berkat". Ada yang mengartikannya dalam arti pasif, "Engkau akan diberkati", artinya, "Engkau akan menjadi perwujudan berkat". Ada pula yang mengartikannya dalam arti aktif, "Engkau akan menjadi sumber berkat bagi orang lain". Barangkali pengertian "menjadi berkat" di sini harus dimengerti dalam arti aktif, menjadi "sumber berkat" dalam kaitannya dengan ayat 3 di bawah ini.

Berkat bagi semua orang

"Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (ayat 3).

Abraham akan menjadi sumber berkat, sehingga nasib seseorang tergantung dari hubungannya dengan Abraham. Mereka yang memberkati Abraham akan diberkati, sedangkan yang mengutuknya akan dikutuk. Mengutuk ialah mengucapkan kata-kata yang mengandung kuat kuasa untuk memisahkan sesuatu atau seseorang dari dunia Tuhan, yakni dari hidup maupun dari lingkungannya (keluarga, suku, kota, dan sebagainya). Mengutuk bertentangan dengan memberkati. Berkat dimaksudkan untuk berkembang biak, untuk mengembangkan kehidupan, sebaliknya kutukan untuk menghancurkan kehidupan. Mereka yang memberkati Abraham artinya mereka yang berhubungan baik dengan Abraham, mau membuat hidup Abraham berkembang menjadi besar, dengan mengakui berkat yang diberikan Tuhan kepadanya (bdk. Kej. 14:19). Orang yang demikian ini akan diberkati, artinya akan memiliki banyak keturunan, berhasil, dan makmur.

Kata "olehmu" (Ibrani: beka) dalam janji "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" sulit dipahami. Kata Ibrani beka di sini biasanya diterjemahkan dengan "olehmu", "oleh karena engkau". Namun, kata ini juga bisa diterjemahkan dengan "dalam engkau": semua bangsa di bumi "akan diberkati dalam engkau" atau "menemukan berkat dalam engkau". Betapapun juga, kedua terjemaban ini mengandung makna adanya janji berkat bagi segala bangsa melalui Abraham. Misalnya, ketika Israel mengalami berkat kemakmuran besar pada zaman Daud dan Salomo, bangsa-bangsa di sekitarnya pun menikmatinya. Mereka dapat ambil bagian dalam berkat yang diberikan kepada Israel.

Abraham Melaksanakan Perintah Tuhan (Kej. 12:4-6)

Abraham tidak melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Dia langsung melaksanakan perintah Tuhan, "Lalu pergilah Abraham seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya" (ayat 4a). Dia pergi meninggalkan Haran menuju Kanaan bersama Sarai, istrinya, dan Lot, anak Haran, saudaranya. Mengapa ia tidak mengajak Terah, ayahnya, ikut serta? Bukankah Kanaan merupakan tujuan utama keberangkatan Terah dan Ur Kasdim (Kej. 11:31)? Apakah karena ayahnya sudah meninggal atau tidak kuat jalan karena sudah tua?

Abraham lahir ketika Terah, ayahnya, berumur 70 tahun (Kej. 11:26). Ketika berangkat dari Haran ke Kanaan Abraham berusia 75 tahun (Kej. 12:5), sedangkan Terah berusia 145 tahun (70+75=145). Menurut Kej. 11:32 Terah meninggal pada usia 250 tahun, artinya masih hidup ketika Abraham berangkat meninggalkan Haran. Ia pun kemungkinan masih kuat, karena masih hidup 105 tahun lagi (250-145=105). Kenyataan bahwa Terah tidak diajak mungkin merupakan salah satu bentuk pelaksanaan perintah TUHAN untuk meninggalkan sanak "saudaramu".

Ayat 5-6 melukiskan perjalanan Abraham dari Haran sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni di pohon tarbantin di More. Sikhem adalah sebuah kota yang terletak sekitar 65 kilometer di sebelah utara Yerusalem, antara Gunung Ebal dan Gunung Gerizim. Dekat Sikhem, ada pohon tarbantin, pohon besar yang dianggap keramat. More sebenarnya mempunyai makna dasar "peramal". Peramal bisa mengacu ke orang atau ke tempat yang dipakai oleh Yang Ilahi untuk menyampaikan pengetahuan tersembunyi. Oleh karena itu, beberapa terjemahan menyebut "pohon tarbantin di More", sedangkan yang lain menyebutnya "pohon tarbantin milik More" (RSV, NIV). Tempat yang dimaksud mungkin tempat suci orang Sikhem. Kelak, Tuhan pun menampakkan diri kepada Abraham di tempat ini (Kej. 18:1).

Refleksi

Apa yang bisa kita pelajari tentang iman Abraham yang disebut bapa kaum beriman (Rm. 4:16)? Perikop yang kita baca tidak mengungkapkan secara eksplisit iman Abraham, namun secara implisit ia sudah menunjukkan awal kehidupan beriman.

Iman diawali oleh kemampuan mendengarkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Keberangkatan Abraham dari Haran dapat saja merupakan suatu keharusan baginya karena tuntutan hidup, seperti yang dialami Terah, ayahnya, yang harus meninggalkan Ur Kasdim. Namun, di mata Abraham, keberangkatan ini adalah jawabannya atas perintah Tuhan. Jawaban itulah ungkapan imannya.

Perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman kadang kala sangat tipis. Ketika orang tidak beriman lulus ujian, ia berkata, "Saya lulus karena saya rajin belajar". Tetapi, orang beriman mengatakan, "Semua itu karena anugerah Tuhan". Dia pun lalu bersyukur kepada Tuhan dan tidak menyombongkan dirinya. Apakah saya melihat peristiwa hidup sehari-hari semata-mata sebagai sesuatu yang alami ataukah merupakan campur tangan Allah dalam hidup saya?

Iman merupakan jawaban atas firman atau panggilan Tuhan. Inisiatifnya selalu dari Tuhan. Asal-usul Abraham menunjukkan kepada kita bahwa panggilan dari Tuhan tidak menuntut prasyarat tertentu, entah itu latar belakang keluarga yang baik, kekayaan, iman, ataupun kesalehan yang istimewa. Abraham hidup dalam lingkungan kafir. Dia tidak mengenal hukum Tuhan, dan oleh karenanya ia juga tidak pernah menunjukkan secara eksplisit kesetiaannya kepada perintah Tuhan. Namun, Tuhan memanggil dia. Dengan kata lain, panggilan dan berkat Tuhan diberikan menurut kehendak bebas Tuhan. Panggilan itu benar-benar rahmat yang diberikan secara cuma-cuma. Jika Tuhan menghendaki, orang setua Abraham pun (75 tahun) bisa menapaki perjalanan yang dikehendaki-Nya.

Menjawab panggilan Tuhan dalam iman berarti berani meninggalkan zona aman dalam hidup kita, seperti Abraham yang meninggalkan negeri kelahiran dan sanak saudaranya yang memberi rasa aman kepadanya. Meninggalkan zona aman berarti juga siap memasuki zona gelap, wilayah yang tidak jelas, seperti Abraham yang siap pergi ke tempat "yang akan ditunjukkan" (berarti belum ditunjukkan). Abraham belum tahu atau tidak tahu persis ke mana ia harus pergi. Namun, karena iman, karena percaya sepenuhnya kepada Tuhan, Abraham siap berjalan dalam kegelapan, dalam ketidakjelasan. Kej. 15:6 mengatakan, "Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran".

Kata iman diambil dari kata Ibrani aman yang berarti percaya. Namun, makna dasarnya sebenarnya "mengokohkan" atau "mendukung", yang mengacu kepada suatu perbuatan memukul patok utama dengan palu untuk mendirikan sebuah tenda. Patok utama ini sangat penting karena sangat menentukan tegak atau robohnya tenda itu. Dalam arti ini, beriman tiada lain dari menancapkan patok utama sebuah tenda, yakni hidup kita, di batu karang yang kuat, yang bagi kita orang Kristen tiada lain dari Kristus. Beriman berarti menerima Allah sebagai tempat pertama dalam hidup kita, mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya, bersandar pada-Nya, dan mengakui-Nya sebagai penopang, tonggak di mana kita membangun hidup kita.

Perjalanan sejarah hidupnya kemudian menunjukkan bagaimana dia bergumul dalam wilayah yang tidak jelas itu. Tidak jarang keraguan menyelimuti hati dan pikirannya sampai-sampai ia mebkukan tindakan bodoh karena meragukan kemahakuasaan Tuhan dan kesetiaan Tuhan pada janji-Nya. Misalnya, ia menyebut Sarai sebagai saudaranya, bukan istrinya (Kej. 12:10-20; 20:1-2), dan mengawini Hagar, hambanya (Kej. 16:1-6). Namun, berkat penyertaan Tuhan, dia berhasil taat sampai akhir. Bagaimana kita bergulat, jatuh bangun dalam iman kita? Meski kita sudah beriman, kita perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa iman kita masih terlalu kecil. Seperti ayah seorang yang bisu dalam Injil, kita pun patut berkata, "Aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini" (Mrk. 9:24).

Kita ingin disebut keturunan Abraham yang akan mewarisi berkat Abraham. Menurut Paulus, unsur yang paling menentukan untuk menjadi keturunan Abraham bukanlah hubungan darah, melainkan iman yang diungkapkan dalam perbuatan dan kesetiaan. "Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: 'Olehmu segala bangsa akan diberkati'. Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu" (Gal. 3:7-9; bdk. Kej. 15:6).

Semoga iman Abraham mewarnai kehidupan keluarga kita, dan kita semua pantas disebut anak-anak Abraham.***

2. KELUARGA YANG BERAKAR PADA SABDA ALLAH : KELUARGA ZAKHARIA DAN ELISABET (Luk 1:57-66)

Setiap keluarga Kristen diharapkan hidup berdasarkan firman Tuhan. Namun, firman Tuhan sering kali tidak begitu jelas dan sering dikaburkan oleh suara-suara lainnya. Sebagai pegangan untuk hidup, firman Tuhan bersaing dengan norma-norma dan aturan-aturan atau tradisi yang berlaku dalam masyarakat. Maka, tidak mengherankan jika banyak keluarga Kristen melanggar firman Tuhan tetapi tidak menyadarinya.

Pengalaman hidup Zakharia, pergumulannya dalam mempercayai firman Tuhan dan mau melaksanakannya, memberi inspirasi serta dorongan bagi kita untuk mengutamakan firman Tuhan di atas yang lainnya. Salah satu peristiwa yang sangat inspiratif ialah kelahiran Yohanes Pembaptis dan upacara sunat yang dilaksanakan oleh keluarga ini. Kisah yang dituangkan dalam Luk. 1:57-66 ini dapat dibagi dalam tiga tema pokok: kelahiran Yohanes (ayat 57-58), sunat dan pemberian nama (ayat 59-63), serta tanggapan Zakharia dan orang banyak terhadap karya agung Allah berupa pujian dan keheranan (ayat 64-66).

Kelahiran Yohanes (Luk. 1:57-58)

Tidak memiliki anak merupakan suatu aib bagi wanita Israel di zaman dulu, dan beberapa orang menganggap mandul sebagai kutukan atau hukuman dari Tuhan. Maka, tidak jarang ketika tidak mempunyai keturunan seorang wanita sangat sedih karena merasa tidak berguna. Sebaliknya, melahirkan anak mereka yakini sebagai tanda Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepada dia yang dikasihi-Nya. Dalam latar belakang budaya seperti ini, bisa dibayangkan betapa besar sukacita seorang wanita Yahudi ketika melahirkan seorang anak, apalagi kalau yang dilahirkan itu anak lagi-laki.

Apa yang dialami Elisabet benar-benar mendatangkan sukacita yang besar. Dia bukan saja melahirkan anak dan anak itu anak laki-laki, melainkan juga karena ia mendapatkannya pada usia yang lanjut dan setelah bertahun-tahun dinyatakan mandul (Luk. 1:7). Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, menyajikan banyak kisah tentang wanita yang semula dianggap mandul kemudian melahirkan anak berkat kemurahan Tuhan. Bahkan wanita-wanita itu adalah istri dari tokoh-tokoh besar atau ibu dari tokoh penting dalam sejarah keselamatan. Selain Elisabet, beberapa nama yang patut diingat ialah Sarai, istri Abraham (Kej. 11:30); Ribka, istri Ishak (Kej. 25:21); Rahel, istri Yakub (Kej. 30:22); istri Manoah atau ibu Simson (Hak. 13:2-3); serta Hana, istri Elkana dan ibu Samuel (1Sam. 1:5).

Dari sekian banyak cerita tentang wanita mandul tetapi kemudian melahirkan, ada beberapa hal yang menarik. Pertama, mereka sangat rindu memiliki anak, serta sangat sedih dan menderita karena belum memilikinya. Kedua, mereka tiada hentinya memohon kepada Tuhan dengan penuh harapan dan setia kepada-Nya.Ketiga, mereka harus menunggu begitu lama, sehingga beberapa di antara mereka akhirnya merasa mustahil akan mendapat anak karena usia yang sudah lanjut. Namun, Tuhan berjanji akan mengabulkan doa mereka (Luk. 1:13) dan menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya (Kej. 18:14; Luk. 1:37). Wanita yang mandul itu pun melahirkan anak. Sarai misalnya, mempunyai anak setelah berusia 90 tahun. Selanjutnya, anak yang diperoleh dengan penantian yang lama dan perjuangan iman yang berat itu akhirnya menjadi tokoh yang luar biasa dan berjasa bagi umat manusia.

Lahirnya seorang anak dari seorang yang dianggap mandul menandaskan bahwa anak itu benar-benar anugerah Tuhan dan Tuhan mempunyai rencana yang indah untuknya. Kegembiraan atas anugerah ini begitu besar, sehingga tidak cukup dirayakan oleh Elisabet dan Zakharia, melainkan juga oleh tetangga-tetangga dan sanak saudaranya (ayat 58). Rasa syukur dan sukacita atas begitu besarnya rahmat yang Tuhan tunjukkan memang harus dibagi bersama, bukan untuk dinikmati sendiri. Tetapi apakah orang lain mau diajak berbagi?

Reaksi para tetangga dan sanak saudaranya sangat positif, mereka mau diajak berbagi sukacita. Mereka tidak iri hati melainkan seperti yang dikatakan Paulus "bersukacita dengan orang yang bersukacita" (bdk. Rm. 12:15). Demikianlah mereka bersukacita bersama-sama.

Sunat dan Pemberian Nama (Luk. 1:59-63)

 Sunat

Di kalangan banyak bangsa di dunia ini, sunat dikaitkan dengan masalah sosial, yakni tanda seorang anak memasuki jenjang dewasa, dan masalah kesehatan. Dalam tradisi Yahudi, sunat dikaitkan dengan perjanjiar Allah dengan Abraham (Kej. 17:7). Sunat dibuat dengan memotong kulit khatan atau kulup kelamin laki-laki, dan menjadi tanda perjanjian Israel dengan Tuhan yang diikat dalam daging. Israel mengimani bahwa Tuhan mengadakan perjanjian bukan dengan Abraham sebagai perorangan melainkan sebagai kepala keluarga, bapa bangsa yang besar. Perjanjian Tuhan berlaku untuk keturunan Abraham sampai selama-lamanya, "Antara Aku dengan kamu serta keturunanmu turun-temurun" (Kej. 17:7-11). Sunat lalu dijadikan sebagai tanda lahiriah seseorang menjadi anggota umat perjanjian. Itulah sebabnya mengapa seorang anak laki-laki Yahudi disunat bukan ketika ia menginjak remaja, melainkan ketika ia masih kecil, tepatnya ketika berusia delapan hari. Yesus pun disunat tepat ketika berusia delapan hari (Luk. 2:21).

Ada yang mengatakan bahwa vitamin K dan prothrombin yang sangat dibutuhkan untuk membekukan darah mencapai puncaknya pada usia delapan tahun. Karena itu, sunat paling ideal dilakukan pada hari kedelapan karena akan sangat aman dan lukanya cepat sembuh. Namun, sunat dilakukan pada hari kedelapan bukanlah karena hal itu, melainkan karena anak harus segera dimasukkan dalam anggota umat perjanjian, menjadi ciptaan baru. Hari kedelapan merupakan hari baru setelah tujuh hari penciptaan. Inilah hari yang tepat untuk menunjukkan bahwa anak yang disunat lahir sebagai manusia baru.

Pemberian nama

Upacara penyunatan biasanya disertai dengan pemberian nama. Nama sangat penting karena merupakan pembeda identitas. Nama memungkinkan kita membedakan sesuatu dengan yang lainnya, anjing dengan kucing, juga Setiawan dengan Budiman. Sebuah nama diharapkan mencerminkan identitas seseorang. Dalam budaya Israel, nama bersifat deskriptif, menggambarkan identitas orang yang memakainya. Misalnya, manusia pertama diberi nama Adam karena ia dibuat dari tanah (Ibrani: adamah), sedangkan istrinya disebut Hawa (Ibrani: hayah, artinya "hidup"), yang berarti "ibu semua yang hidup" (Kej. 3:20). Pemimpin yang mengantar Israel ke tanah terjanji bernama Yosua,.yang berarti "TUHAN menyelamatkan" atau "TUHAN adalah juruselamat". Nabi Hosea yang menikah dengan Gomer, perempuan sundal, menamai anak-anaknya Yizreel (artinya "Tuhan menabur"), Lo-Ruhama (artinya "tidak disayangi", Hos. 1:6), dan Lo-Ami (artinya "bukan umat-Ku", Hos. 1:9) untuk menggambarkan relasi Tuhan dengan Israel. Adik Esau disebut Yakub (Ibrani 'akeb = tumit) karena ketika lahir ia memegang tumit Esau (Kej. 25:26).

Biasanya kalau mereka kesulitan menemukan nama yang mendeskripsikan sesuatu yang khas, mereka memberi nama orangtuanya atau nenek moyangnya. Anak laki-laki pertama biasanya diberi nama sesuai nama ayahnya. Maka, tidaklah mengherankan bahwa para tetangga dan sanak saudara Elisabet hendak menamai anak yang baru lahir itu Zakharia, sesuai nama ayahnya (ayat 59). Tetapi, Elisabet tidak menyetujuinya dan mengatakan bahwa ia harus diberi nama Yohanes (ayat 60). Nama ini sesuai dengan apa yang dipesankan oleh malaikat kepada suaminya (Luk. 1:13). Orang-orang itu sulit menerima penolakan Elisabet karena bertentangan dengan tradisi (ayat 61). Mereka lalu menanyakannya kepada Zakharia. Karena Zakharia bisu dan kelihatannya juga tuli, mereka bertanya kepadanya dengan bahasa isyarat (ayat 62). Zakharia meminta batu tulis, semacam lempengan tanah liat yang dipakai untuk membuat catatan sementara, lalu menulis, "Namanya adalah Yohanes" (ayat 63). Yohanes merupakan transliterasi dalam bentuk singkat dari kata Ibrani Iehochanan, artinya "Allah adalah rahim". Nama orang-orang yang kelahirannya telah dinubuatkan biasanya mempunyai makna tertentu yang berkaitan dengan panggilan khusus yang direncanakan Tuhan baginya. Yohanes dipanggil untuk menyerukan pertobatan agar orang menerima kerahiman Allah dan Sang Penebus. Menyaksikan semua itu tentu saja orang banyak heran karena tidak sesuai dengan apa yang lazim atau tradisi mereka (ayat 63b).

Zakharia Memuji Allah (Luk. 1:64-66)

Ayat 64-66 berisi reaksi Zakharia dan orang-orang di sekitarnya terhadap karya agung Allah. Pertama kita melihat reaksi Zakharia. Dengan mulutnya, Zakharia telah menunjukkan ketidakpercayaannya kepada Tuhan, sehingga mulut itu terkutuk dan tidak bisa berbicara (Luk. 1:11-23). Kini, ketaatan Zakharia kepada firman Tuhan, yang membuktikan bahwa dia benar-benar percaya kepada Allah, menghapus kutuk yang dia terima. Mulutnya terbuka dan ia mulai berbicara kembali (ayat 64a). Hukuman bisunya berakhir dan sebagai tanggapan atas karya Allah ini Zakharia memuji-Nya (ayat 64b).

Bahasa Ibrani kuno mengenal beberapa kata untuk istilah memuji (Yunani:eulogeo). Pertamahalal artinya "memuji", misalnya seruan haleluya (pujilah Tuhan) yang merupakan gabungan dua kata Ibrani halelu (pujilah) dan Yah(singkatan nama Tuhan, YHWH; bdk. Mzm. 111:1;112:1;113:1,9;150:1;dll.).Keduayadah artinya "mengucap syukur" dalam arti mengakui dan memuji kebaikan hati seseorang. Ketigabarak artinya "memberkati" dalam arti mengakui dan memuji kebaikan Allah (lih. Kej. 24:27). Kata memuji memiliki makna yang hampir tidak terpisahkan dengan bersyukur. Zakharia memuji Allah, artinya ia bersyukur kepada Allah dengan mengakui dan memuji kebaikan hati-Nya.

Israel memuji Allah bukan pertama-tama dengan mempersembahkan kurban kepada-Nya, melainkan terutama dengan mengakui di depan umum apa yang diperbuat-Nya. Itulah yang dilakukan oleh Zakharia. Zakharia memuji dan bersyukur kepada Allah karena ia mengalami kasih Allah yang mengikutsertakan umat manusia dalam mengungkapkan kasih dan kekuasaan-Nya yang mengagumkan dan mengatasi pikiran manusia. Sebetulnya inilah salah satu kekhasan kekristenan. Orang Kristen mengakui keselamatan sebagai anugerah Allah, karena itu mereka selalu bersyukur kepada Tuhan seperti dinasihatkan oleh Paulus, "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita" (lih. Ef. 5:20; Kol. 3:17; Flp. 4:6).

Kedua, kita melihat reaksi orang-orang di sekitar Zakharia. Mereka ketakutan bukan ketakutan dalam arti harfiah, melainkan hormat dan kagum, seperti sikap seorang anak terhadap orangtuanya (ayat 65). Karena kekaguman itu, mereka pun membicarakannya di mana-mana sehingga berita tentang hal ini semakin tersebar luas, bahkan sampai ke telinga Lukas, pengarang Injil ini. Semua orang yang mendengarnya "merenungkannya". Bahasa Yunaninya berbunyi "ethento ... en te kardia auton" yang secara harfiah berarti "menempatkannya dalam hatinya". Maksudnya mungkin bukan pertama-tama merenungkannya atau menyimpan dalam hati seperti Maria, nielainkan lebih berarti "mengaguminya" atau "heran" penuh tanda tanya. Mereka heran dan berkata, "Menjadi apakah anak ini nanti?" (ayat 66a). Di dalam keheranannya, mereka bertanya-tanya soal masa depan, soal rencana Tuhan terhadap anak ini. Mereka yakin bahwa Tuhan menyertai anak ini dan mempunyai rencana besar di inasa depan untuknya (ayat 66b).

Refleksi

Beberapa pokok-pokok refleksi yang bisa kita buat berdasarkan ulasan teks di atas:

Menghargai anak

Sabda Tuhan menunjukkan kepada kita pentingnya seorang anak. Apakah sebagai suami-istri, kita benar-benar mendambakan dan menghargai anak sebagai anugerah istimewa dari Tuhan? Bagaimana pandangan kita dengan sikap orang yang menikah tctapi tidak mau mempunyai anak? Bagaimana sikap kita terhadap aborsi, terhadap kasus bayi yang dibuang begitu saja olgh-orang yang melahirkannya?

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang mandul? Apa yang kita buat bila sebagai suami-istri kita belum juga dikaruniai keturunan? Usaha-usaha apa saja yang kita buat dan apakah usaha itu sesuai dengan iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan? Bila sudah begitu lama kita menantikannya, masih beranikah kita berharap dan percaya bahwa "tiada yang mustahil bagi Tuhan"?

Sunat

Sunat dalam Perjanjian Lama pertama-tama merupakan tanda lahiriah perjanjian Israel dengan Allah. Namun, sunat tidak boleh terbatas sebagai tanda lahiriah, melainkan juga tanda rohani. Sunat berkaitan erat dengan ketaatan, menjadi tanda jawaban manusia atas kasih karunia Allah yang memilih dan menandai umat milik-Nya. Jawaban itu berupa penyerahan diri kepada Allah dan kesetiaan dalam menaati hukum-Nya. "Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela". Darah yang tumpah dalam sunat menunjukkan tuntutan yang mahal yang harus dibayar oleh manusia yang hidup dalam perjanjian dengan Tuhan.

Perjanjian Lama sebenarnya sudah menekankan pentingnya sunat hati, sunat rohani. "Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk" (Ul. 10:16); "Allahmu, akan menyunatkan hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN" (Ul. 30:6). Yeremia mengajak orang Yehuda bertobat dengan berkata, "Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu" (Yer. 4:4). Namun, Perjanjian Baru lebih tegas lagi dalam menandaskan pentingnya sunat rohani, terutama ketika hukum sunat hendak dijadikan sebagai syarat untuk keselamatan. Paulus dengan keras menentang kewajiban sunat jasmani, "Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah" (1Kor. 7:19); "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih (Gal. 5:6). Keselamatan diperoleh bukan karena sunat, melainkan karena Kristus, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17).

Sunat dalam Perjanjian Baru bukan lagi sunat lahiriah, melainkan sunat dalam Kristus, yaitu terpisah, putus hubungan dengan dosa. "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa" (Kol. 2:11). Sunat yang sejati adalah sunat "di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah" (Rm. 2:29). Seperti alat kelamin laki-laki, hati dalam arti tertentu juga merupakan tempat bertumbuhnya benih, baik benih-benih kasih maupun benih-benih kejahatan. Pembungkus hati yang menodai hati kita harus dibuang agar kita terbuka dan bersih, bebas dari perbuatan-perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora, dan sebagainya (Gal. 5:19-21). Sunat baru yang menandai kita masuk menjadi umat perjanjian ialah sakramen baptis. Dengan dibaptis kita dibersihkan dari dosa-dosa kita oleh Kristus dan mulai menjalani hidup baru yang dipimpin Roh.

Bagaimana sikap saya terhadap sunat dan baptis? Apakah saya inelihatnya hanya sebagai upacara formal, lahiriah, ataukah sudah saya hayati nilai-nilai rohaninya dengan hidup dalam kekudusan?

Hidup dalam janji

Kelahiran anak laki-lakinya dan berakhirnya kebisuan menunjukkan kepada Zakharia bahwa Allah pasti menepati janji-Nya dan tidak ada yang mustahil bagi Dia (Luk. 1:37). Dia harus membayar mahal ketidakpercayaannya, namun ketidakpercayaannya itu sendiri tidak dapat menghalangi Allah dalam melaksanakan rencana-Nya.

Kita pun umat perjanjian, umat yang hidup dalam janji. Hidup dalam janji tidaklah mudah apalagi kalau apa yang dijanjikan itu seakan mustahil dan lama tidak terpenuhi. Pengalaman Zakharia menyadarkan kita bahwa Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Janji Allah bisa dipercaya dan kita tidak perlu meragukannya karena Allah tidak mungkin berdusta (Ibr. 6:18). Tapi, bagaimana dengan janji kita yang menyebut diri anak-anak Allah? Masih pantaskah kita disebut anak Allah bila janji kita tidak bisa dipercaya lagi?

Ketaatan pada firman mendatangkan berkat

Belajar dari pengalaman, Zakharia dan Elisabet berusaha sebisa mungkin menaati firman Tuhan. Mereka menyunatkan anak mereka pada hari kedelapan dan menamainya Yohanes. Dalam memberi nama ini, mereka lebih memilih taat kepada firman Tuhan daripada kepada tradisi yang berlaku. Akibatnya, mereka menjadi orang yang terberkati dan Allah menyertai anak mereka. Betapa banyak Iradisi dan peraturan-peraturan duniawi yang sepertinya kurang scsuai bahkan bertentangan dengan firman Tuhan. Bagaimana kita mcnyikapinya?

Nama menunjukkan identitas diri

Nama merupakan pembeda identitas dan menggambarkan siapa saya, juga apa yang Tuhan dan orang lain harapkan dari saya. Betapa sering kita memilih nama secara sembarangan, atau menyebut nama orang lain secara tidak benar. Nama atau sebutan yang diberikan kepada kita menunjukkan dan menggambarkan identitas kita. Sebuah pepatah Cina berbunyi, "Awal kebijaksanaan adalah memanggil sesuatu dengan namanya yang benar". Apakah kita menghargai nama? Ataukah kita menyepelekannya seperti Shakespeare, pujangga besar Inggris, yang mengatakan, "Apalah arti sebuah nama? Setangkai mawar tetap harum entah ia bernama rose atau rosa"?

Memuji

Ketika bisa berbicara kembali seperti sediakala, hal pertama yang dilakukan oleh Zakharia ialah memuji Allah (ayat 64b). Apakah kita termasuk orang yang bisu seperti Zakharia yang sedang menjalani hukuman, ataukah orang yang memujiTuhan? Berapa lama kita membisu? Apakah kita sedang menunggu karya ajaib supaya bisa melepaskan kebisuan kita? Ataukah kita sudah dijiwai oleh pesan Paulus untuk selalu memuji dan bersyukur kepada Allah dalam situasi apapun?***

 




265 Komentar :

Pest Control Boca Raton FL
26 Agustus 2013 - 23:09:59 WIB

semua yang dihadirkan website in sangat sempurna,baik tampilan dan artikelnya..penuh warna dan penuh makna..
Ekstrak Teripang
28 Agustus 2013 - 08:57:19 WIB

web yang sangat informatif
Notfallzahnarzt
02 September 2013 - 08:46:46 WIB

Karena ilmu bisa didapet dari mana aja, terma**k dari sini. Semuanya pingin saya baca, biar tambah pinter, kayak rudy rubiandini yang pinter ngebor juga nyari duit di SKK migas.
Vintage Dresses Online
06 September 2013 - 13:55:47 WIB

Banyak orang modern justru menyukai vintage dresses, tapi pertanyaannya, dimana mem... barang tersebut secara online? Cukup kunjungi situs kami kapanpun anda mau.
Fondue
07 September 2013 - 08:07:32 WIB

Untuk memberi informasi kepada masyarakat, kehadiran website memang sangat membantu, apalagi di jaman seperti ini, menjadi pilihan yang paling cepat dan mudah.
About Gatwick Taxi
07 September 2013 - 23:05:08 WIB

Semoga kita tetap sehat wal afiat dan masih dalam semangat menjalankan aktivitas. Tugas dalam mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Mari terus berjuang demi kemajuan bersama.
roket.pw/135.html
09 September 2013 - 10:16:04 WIB

Permisi untuk anda dan pembaca yang budiman. Semakin banyak pengunjung yang hadir dan semoga tetap memberikan artikel menarik bagi kita. Semangat terus dan salam kenal Personal Injury Lawyer Kitsap County.
Penggunaan Infinitive Bahasa Inggris Yang Benar
10 September 2013 - 08:19:18 WIB

Anak polah bapa kepradah. Ini gambaran yang terjadi pada Ahmad Dhani. Karena perbuatan anaknya, orang tua yang harus menanggung akibatnya. Menjadi peringatan untuk kita semua untuk lebih berhati-hati dalam mendidik anak.
Obat Kanker Multikhasiat
13 September 2013 - 10:34:04 WIB

terimakasih banyak atas semua artikelnya
Actos Bladder Cancer Fourfold
18 September 2013 - 09:10:16 WIB

Dengan segala hormad, kami menyampaikan apresiasi atas dedikasi anda dalam memberikan informasi terbaik dan aktual. Semakin dicint** dan menjadi pelopor pembangunan kwalitas sumber daya manusia.
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 27 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)